Bab 2

Design Thinking & Creative Process

Learning Objectives

Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu:

  • Memahami konsep Design Thinking dalam proses desain.
  • Menjelaskan tahapan proses kreatif seorang Graphic Designer.
  • Mengidentifikasi kebutuhan klien sebelum mulai mendesain.
  • Menyusun ide dan konsep visual yang sesuai dengan tujuan desain.
  • Menerapkan alur kerja (workflow) Graphic Designer secara sistematis.

2.1 Apa itu Design Thinking?

Design Thinking adalah pendekatan kreatif untuk menyelesaikan masalah dengan menempatkan kebutuhan pengguna (user) sebagai fokus utama. Dalam Graphic Design, Design Thinking membantu desainer menciptakan solusi visual yang tidak hanya menarik, tetapi juga relevan dan efektif.

Alih-alih langsung membuka software desain, seorang Graphic Designer perlu memahami terlebih dahulu masalah yang ingin diselesaikan. Dengan demikian, desain yang dihasilkan memiliki tujuan yang jelas dan mampu memberikan nilai bagi audiens maupun bisnis.

Design Thinking banyak digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari branding, pemasaran, pengembangan produk, hingga desain antarmuka (UI/UX). Prinsip utamanya adalah memahami kebutuhan pengguna, menghasilkan berbagai ide, membuat solusi, kemudian mengevaluasi hasilnya secara berulang.

Pendekatan ini penting karena banyak desainer pemula terjebak pada godaan untuk langsung "membuat sesuatu yang bagus" tanpa tahu persis apa yang sedang diselesaikan. Akibatnya, desain yang dihasilkan mungkin estetis, tapi gagal menjawab masalah sebenarnya, sehingga klien tetap tidak puas meski secara visual terlihat rapi.

Contoh

Sebuah UMKM mengeluhkan bahwa promosi di Instagram sepi interaksi.

Tanpa menerapkan Design Thinking, desainer mungkin langsung mengganti warna atau menambahkan elemen dekoratif. Namun, dengan Design Thinking, desainer akan mencari tahu terlebih dahulu penyebab masalahnya, seperti target audiens yang kurang tepat, informasi yang sulit dipahami, atau visual yang tidak sesuai dengan karakter brand.

Dengan memahami akar masalah, solusi yang diberikan akan lebih tepat sasaran.

2.2 Tahapan Design Thinking

Secara umum, Design Thinking terdiri dari lima tahapan yang saling berkaitan. Meski sering digambarkan berurutan, dalam praktiknya kelima tahap ini bisa berulang, terutama antara Prototype dan Test, karena desain yang baik jarang selesai dalam satu putaran saja.

Empathize

Tahap pertama adalah memahami pengguna atau klien secara mendalam. Graphic Designer perlu mengetahui siapa target audiens, kebutuhan mereka, serta tujuan bisnis yang ingin dicapai. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan antara lain:

  • Siapa target audiensnya?
  • Masalah apa yang sedang dihadapi?
  • Apa tujuan dari desain ini?
  • Media apa yang akan digunakan?
  • Bagaimana karakter brand yang ingin ditampilkan?

Define

Setelah memperoleh informasi, langkah berikutnya adalah merumuskan inti permasalahan. Misalnya: "Brand ingin meningkatkan penjualan melalui Instagram, tetapi desain promosi saat ini kurang menarik perhatian dan informasi promo sulit dipahami."

Dengan permasalahan yang jelas, proses desain akan lebih terarah. Tahap ini sering dilewatkan oleh desainer pemula, padahal merumuskan masalah dengan tepat adalah setengah dari jalan menuju solusi yang tepat pula.

Ideate

Tahap ini berfokus pada pencarian berbagai alternatif solusi. Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan antara lain brainstorming, membuat mind map, mengumpulkan referensi desain, menentukan mood visual, dan membuat beberapa alternatif konsep.

Pada tahap ini, jangan langsung terpaku pada satu ide. Semakin banyak alternatif yang dihasilkan, semakin besar peluang menemukan solusi terbaik. Sebagian desainer merasa tidak efisien menghasilkan banyak alternatif, padahal justru inilah yang mencegah desain "asal jadi" di tahap awal.

Prototype

Prototype adalah pembuatan rancangan awal desain. Prototype tidak harus langsung sempurna. Tujuannya adalah memvisualisasikan ide agar dapat dievaluasi sebelum desain dikembangkan lebih lanjut. Prototype dapat berupa wireframe, sketsa, moodboard, draft layout, atau mockup sederhana.

Test

Tahap terakhir adalah menguji hasil desain. Pengujian dapat dilakukan melalui feedback dari klien, review dari tim, A/B Testing untuk materi iklan, user testing, dan evaluasi performa desain.

Feedback yang diperoleh menjadi dasar untuk melakukan revisi sehingga desain semakin efektif. Penting dipahami bahwa "gagal" di tahap Test bukan berarti prosesnya salah, justru di sinilah nilai dari pendekatan iteratif terlihat, karena kesalahan ditemukan sebelum desain dipakai secara luas.

2.3 Workflow Graphic Designer

Dalam praktiknya, seorang Graphic Designer umumnya mengikuti alur kerja berikut:

  1. Menerima brief dari klien. Memahami kebutuhan, tujuan, target audiens, media yang digunakan, deadline, dan berbagai informasi penting lainnya.
  2. Melakukan riset. Mengumpulkan referensi, mempelajari kompetitor, memahami karakter brand, dan mencari inspirasi visual.
  3. Menyusun konsep. Menentukan gaya visual, warna, tipografi, layout, serta arah desain yang akan digunakan.
  4. Membuat draft desain. Mengubah konsep menjadi visual menggunakan software desain.
  5. Review dan revisi. Melakukan evaluasi bersama klien atau tim, kemudian memperbaiki desain sesuai masukan.
  6. Finalisasi. Menyiapkan file akhir sesuai kebutuhan, baik untuk media digital maupun cetak.

Workflow yang terstruktur membantu Graphic Designer bekerja lebih efisien dan meminimalkan revisi yang tidak perlu. Workflow ini pada dasarnya adalah versi praktis dari lima tahap Design Thinking di atas, disesuaikan dengan ritme kerja sehari-hari seorang desainer.

2.4 Pentingnya Design Brief

Design Brief adalah dokumen atau informasi yang berisi kebutuhan proyek desain. Brief menjadi panduan utama agar Graphic Designer memahami ekspektasi klien sebelum mulai bekerja. Informasi yang umumnya terdapat dalam design brief meliputi:

  • Latar belakang proyek.
  • Tujuan desain.
  • Target audiens.
  • Media yang digunakan.
  • Ukuran desain.
  • Identitas brand.
  • Referensi visual.
  • Deadline.
  • Output yang diharapkan.

Semakin lengkap design brief, semakin kecil kemungkinan terjadinya miskomunikasi selama proses pengerjaan. Sebaliknya, brief yang tidak lengkap sering menjadi sumber revisi berulang, karena desainer terpaksa menebak-nebak ekspektasi klien yang sebenarnya belum tersampaikan dengan jelas.

Contoh Design Brief Sederhana

Sebagai gambaran, berikut contoh design brief sederhana dari sebuah UMKM kedai kopi yang ingin membuat materi promosi untuk menu baru:

Latar belakang proyek. Kedai kopi baru saja meluncurkan menu andalan, tetapi promosi yang dibuat sebelumnya kurang menarik perhatian di Instagram.
Tujuan desain. Meningkatkan awareness terhadap menu baru dan mendorong pelanggan datang untuk mencoba.
Target audiens. Anak muda usia 18-30 tahun di sekitar lokasi kedai, aktif menggunakan Instagram.
Media yang digunakan. Feed dan Story Instagram.
Ukuran desain. Feed 1080x1350 px (rasio 4:5), Story 1080x1920 px.
Identitas brand. Warna cokelat tua dan krem, gaya visual hangat dan homey, logo kedai wajib tampil di setiap materi.
Referensi visual. Beberapa akun kompetitor dengan gaya food photography yang clean.
Deadline. 3 hari kerja sejak brief diterima.
Output yang diharapkan. 1 desain feed utama, 3 desain Story pendukung, format siap unggah (JPG/PNG).

Brief sesederhana ini sudah cukup memberi arah yang jelas bagi desainer, dibandingkan instruksi longgar seperti "tolong buatkan promosi menu baru yang menarik" tanpa detail tujuan, audiens, atau batasan teknis.

2.5 Mencari Referensi dan Inspirasi Desain

Mencari referensi bukan berarti meniru karya orang lain. Tujuannya adalah mempelajari bagaimana desainer lain menyusun layout, memilih warna, menggunakan tipografi, atau membangun hierarki visual.

Beberapa sumber inspirasi yang sering digunakan Graphic Designer antara lain Behance, Dribbble, Pinterest, Awwwards, Instagram, dan Mobbin (untuk UI Design).

Saat mencari referensi, fokuslah pada alasan di balik sebuah desain, bukan hanya tampilannya. Batas antara "terinspirasi" dan "meniru" terletak pada seberapa jauh referensi tersebut diadaptasi ke konteks brand dan masalah yang sedang dikerjakan. Mengambil satu-dua elemen sebagai pijakan berpikir itu wajar, tetapi menyalin komposisi secara utuh tanpa penyesuaian bukan lagi riset, melainkan duplikasi.

Summary

Design Thinking membantu Graphic Designer menghasilkan solusi visual yang berfokus pada kebutuhan pengguna dan tujuan bisnis. Dengan melalui tahapan Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test, proses desain menjadi lebih terarah dan efektif.

Selain itu, workflow yang sistematis serta design brief yang jelas menjadi fondasi penting dalam setiap proyek desain.

Graphic Designer Insight

"Desain yang hebat lahir dari pemahaman yang baik, bukan dari tebakan yang kreatif."

Salah satu kebiasaan desainer pemula adalah langsung membuka software begitu menerima pekerjaan. Padahal, waktu yang digunakan untuk memahami brief, melakukan riset, dan menyusun konsep sering kali justru menghemat waktu revisi di kemudian hari.

Biasakan untuk berpikir sebelum mendesain. Semakin kuat proses di awal, semakin efektif hasil desain yang akan Anda buat.